PENCERAHAN WARNA LITURGI MERAH MUDA (ROSE/PINK) PADA MINGGU ADVEN KETIGA DAN MINGGU PRAPASKAH KEEMPAT Gereja Katolik menggunakan warna liturgi merah muda (pink/rose) pada kasula imam, maksudnya untuk menandai bahwa saat hari Minggu itu kita telah berada di pertengahan masa Adven. Selain digunakan pada Hari Minggu Adven III, warna pink/rose ini juga dipakai pada Hari Minggu
Sponsors Link Sebagai salah satu rangkaian ibadah pra-Paskah, warna liturgi Rabu Abu juga merupakan hal yang cukup penting. Oleh sebab itu, sebagian umat Katolik sebaiknya memahami makna dan warna yang digunakan pada prosesi Rabu Abu tersebut. Sehingga lebih memahami arti pengorbanan dan penyaliban Yesus di kayu salib untuk membebaskan manusia dari berbagai belenggu macam-macam dosa menurut Alkitab. Dengan hal ini maka sebaiknya bagi yang belum paham benar, berikut ini beberapa penjelasan tentang warna liturgi Rabu Abu yang cukup penting di bawah ini. Tentang Rabu Abu Rabu Abu merupakan salah satu hari pertama dalam masa pra-Paskah pada liturgi yang dilakukan oleh umat Katolik. Prosesi liturgy umumnya dengan memberikan salib abu pada tiap dahi jemaat yang mengingatkan pada masa sengsara Tuhan Yesus sebelum disalibkan. Oleh sebab itu Rabu Abu sendiri dipandang memiliki makna yang dalam dalam upacara masa pra-paskah di gereja-gereja Katolik. Abu yang dikenakan ini sebenaranya merupakan lambang kesedihan. Lebih tepatnya berduka atau berkabung karena sesuatu, yaitu peristiwa penyaliban Yesus sesudahnya. Sering kali Rabu Abu ini melambangkan juga penyesalan dan pertobatan. Sehingga diharapkan umat Katolik saat mengikuti liturgy Rabu Abu mengenang akan masa sengsara Tuhan Yesus dan cara bertobat orang Kristen sebagai tanda ucapan syukur atas penebusan dosa yang telah dilakukan di kayu salib. Warna Liturgi Rabu Abu Sebagai gambaran untuk warna liturgi sendiri, Rabu Abu dilambangkan dengan warna ungu. Warna liturgi sendiri sebenarnya merupakan gambar dan lambang warna yang dikenakan pada tiap liturgi untuk misa pada ibadah umat Katolik. Menurut sejarahnya, warna itu melambangkan peristiwa gerejawi yang ditetapkan berdasarkan keputusan Paus melalui Ordo Missae. Adapun lima warna dasar dalam warna-warna liturgy tersebut meliputi warna putih, merah, hijau, ungu dan hitam. Dengan diberikannya aturan warna liturgi pada tiap acara ibadah umat Katolik, tentunya menandakan bahwa prosesi ibadah sendiri sebaiknya didominasi oleh warna yang telah disesuaikan tersebut. Sehingga secara tidak langsung, baik dekorasi gereja serta seluruh pakaian Romo, Imam ataupun Putra Altar wajib mengenakan nuansa warna tersebut. Pada liturgi Rabu Abu, maka pada masa itu seluruh petugas gereja termasuk dekorasi dalam gereja Katolik sendiri akan didominasi oleh warna ungu. Warna ini juga bukan opsional atau pilihan, melainkan sudah menjadi warna yang diwajibkan oleh pihak gereja untuk dikenakan sepanjang liturgi serta misa Rabu Abu di gereja Katolik di mana saja di dunia. Makna Warna Liturgi Rabu Abu Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, warna liturgi Rabu Abu berupa warna ungu ini digunakan sebagai lambang penyesalan, berkabung maupun pertobatan dan kerendahan hati. Oleh sebab itu diharapkan pada masa pra-Paskah termasuk pada misa Rabu Abu membawa makna mendalam bagi tiap orang Katolik untuk melakukan ke-4 hal tersebut. Berikut ini lebih jelasnya tiap makna yang ingin disampaikan gereja pada umatNya. Penyesalan Warna ungu dalam Rabu Abu membawa penyesalan mendalam. Oleh sebab itu sebagai umat yang telah dipilih untuk diselamatkan, kita sebagai umat Katolik dan Kristen wajib menyesali segala perbuatan buruk yang telah kita lakukan. Dengan memandang salib maka penyesalan itu hendaknya kita maknai dengan lebih. Berkabung Makna berkabung di sini yaitu atas pengorbanan yang telah dilakukan Allah melalui Tuhan Yesus. Namun dengan demikian bukan kita menjadi bersedih melainkan bersuka cita atas kemenangan dari Tuhan yang telah diberikan. Oleh sebab itu ada baiknya pada masa pra-Paskah ini umat Katolik umumnya disarankan untuk berpantang maupun tata cara puasa orang Katolik untuk merasakan sengsara dan penderitaan Yesus sebelum disalibkan. Pertobatan Dengan demikian maka sebaiknya mulailah hari dengan pertobatan. Hal ini merupakan gambaran makna Rabu Abu yang lebih tepat. Bertobat atas sifat dosa menurut Alkitab yang telah dilakukan. Sehingga dengan demikian kita sebagai umat Allah memaknai arti Rabu Abu ini dengan tepat dan penuh dengan kerelaan untuk bertobat mengakui kesalahan di hadapan Allah. Kerendahan Hati Pertobatan sendiri membutuhkan kerendahan hati. Oleh sebab itu lakukan hal tersebut dengan rasa rendah hati dan ketidakmampuan tanpa kekuatan dari Allah sendiri. Dengan demikian maka pertobatan yang kita lakukan akan diterima oleh Allah. Lebih lagi berarti dalam hal ini umat Katolik telah memahami esensi ibadah liturgi Rabu Abu itu sendiri. Dengan memaknai arti makna tersebut, maka umat Katolik akan berhasil memaknai arti ibadah itu sendiri. Oleh karena itu sangat penting mengetahui warna liturgi Rabu Abu bukan hanya sekedar symbol yang wajib dikenakan saja. Tetapi lebih tepatnya dilakukan dan diimplementasikan secara jelas dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga makna perayaan tersebut menyatu dengan kehidupan umat secara lebih spesifik. Itulah sedikit penjelasan warna liturgi Rabu Abu yang dapat membantu untuk memaknai prosesi ini bersama. Oleh sebab itu sebaiknya dengan membaca firman Tuhan, maka akan cukup jelas memahami akan makna liturgi tersebut. Sehingga dengan cara berdoa dalam Roh dan mengucap syukur maka secara tidak langsung umat Katolik akan mendapatkan makna lebih dalam dari karya penyelamatan yang diberikan Allah dari pengorbanannya di kayu salib. Tuhan memberkati!
LENGKONG AYOBANDUNG.COM --Berikut kalender liturgi katolik Juli 2022 lengkap bacaan harian, yaitu bacaan injil, bacaan pertama, bacaan kedua, mazmur tanggapan, dan Warna Liturgi.Gereja katolik memiliki kalender khusus yang dimana di kalender tersebut juga ditetapkan bacaan harian. Selain itu juga pada tanggal tertentu juga gereja aka merayakan pesta orang kudus.
Warna Liturgi dalam Gereja Katolik memiliki makna dan arti yang berbeda-beda. Gereja Katolik sudah menetapkan warna liturgis di dalam ekaristi. Untuk mengetahui warna liturgis setiap hari atau minggunya dapat melihat panduan dalam kalender liturgi gereja. Warna yang sudah ada dan ditetapkan gereja dalam kalender litugi tidak untuk diperdebatkan atau diubah sendiri. Hal ini dikarenakan makna dari warna litugis memiliki arti yang berbeda. Warna liturgi dalam Gereja Katolik ada beberapa warna, yaitu putih atau kuning, merah, merah muda atau pink, hijau, ungu, bahkan hitam. Warna liturgi biasanya terdapat pada pakaian liturgi para petugas liturgi termasuk Imam dan juga terdapat pada kain yang digunakan untuk menutupi meja-meja pada altar maupun panti imam. Berikut adalah makna dan arti warna liturgi dalam perayaan Gereja Katolik. Warna Putih atau Kuning Warna putih atau kuning melambangkan tentang warna kesucian, kemulian, kesempurnaan, kemurnian, kemenangan. Warna ini bisa dipakai pada waktu Natal, Paskah, Kamis putih, dan Hari Raya Orang Kudus atau Hari Raya Khusus yang diperingati oleh gereja. Warna Merah Warna merah melambangkan pengorbanan dan keberanian. Biasanya warna ini dahulu dipakai oleh para martir. Warna ini biasa dipakai pada waktu Hari Raya Jumat Agung, Minggu Palma. Warna Merah Muda atau Pink Warna ini melambangkan suka cita atau kegembiraan dan cinta kasih. Biasanya digunakan pada waktu Minggu Adven ketiga minggu gaudete dan Minggu Prapaskah IV. Warna Hijau Warna hijau melambangkan kesuburan dan kehidupan. Warna liturgi ini dipakai pada hari minggu biasa. Warna Ungu Warna ungu melambangkan tentang pertobatan. Warna ungu biasa dipakai pada masa prapaskah atau juga masa adven. Selain itu juga dapat dipakai pada waktu misa arwah misa requiem ketika ada umat yang meninggal. Warna Hitam Dahulu warna ini pernah digunakan untuk misa kematian. Karena dianggap bahwa kematian adalah hal yang gelap. Tetapi sekarang warna ini sudah tidak digunakan lagi oleh gereja dan diganti dengan warna ungu. Dalam perayaan liturgi, warna sudah diatur dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Tidaklah baik jika warna perayaan liturgi gereja kita ganti sesuka hati. Karena gereja sudah menetapkan warna yang digunakan liturgi sesuai dengan maknanya. Baca juga Makna Korona Adven Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari Mari bergabung di Grup dan Chanel Telegram “JAGO KOMSOS“, caranya klik link kemudian join. Anda harus menginstall aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
PORTALPURWOKERTO - Gereja Katolik menggunakan beragam warna dalam perayaan liturginya dan warna liturgi Minggu Palma adalah merah. Warna merah tidak hanya digunakan sebagai warna liturgi Minggu Palma, namun juga digunakan pada hari Jumat Agung, Pentakosta, serta Pesta Para Rasul dan Martir. Selain warna merah sebagai warna liturgi Minggu Palma – Warna litugi memiliki arti yang berbeda, Warna liturgi dalam gereja katolik ada beberapa warna yaitu putih atau kuning, merah, merah muda atau pink, hijau, ungu, bahkan hitam. Warna liturgi dipakai untuk altar gereja, dipakai para Imam, petugas lektor, dan juga misdinar. Berikut adalah makna dari warna liturgi dalam perayaan gereja katolik. 1. Warna Putih atau Kuning Warna putih atau kuning melambangkan kesucian, kemulian, kesempurnaan, kemurnian, keabadian, dan kemenangan. Warna ini biasa dipakai pada waktu Natal, Paskah, Kamis putih, dan Hari Raya Orang Kudus atau Hari Raya Khusus yang diperingati oleh gereja 2. Warna Merah Warna merah melambangkan pengorbanan dan keberanian. Biasanya warna ini dahulu dipakai oleh para martir. Warna ini biasa dipakai pada hari raya Jumat Agung, Minggu Palma. 3. Warna Merah Muda Pink Warna ini melambangkan sukacita atau kegembiraan. Biasanya digunakan pada waktu minggu adven ketiga minggu gaudete. 3. Warna Hijau Warna hijau melambangkan kesuburan dan kehidupan. Warna liturgi ini dipakai pada hari minggu biasa 4. Warna Ungu Warna ungu melambangkan pertobatan. Warna ini biasa dipakai pada masa prapaskah atau juga masa adven. Selain itu juga dapat dipakai pada waktu misa arwah misa requiem 5. Warna hitam Warna ini bisa digunakan pada upacara misa kematian. Karena dianggap bahwa kematian adalah hal yang gelap. Tetapi sekarang warna ini sudah tidak digunakan lagi oleh gereja dan diganti dengan warna ungu. Dalam perayaan Liturgi Warna sudah diatur dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Tidaklah baik jika warna perayaan liturgi gereja kita ganti sesuka hati. Karena gereja sudah menetapkan warna yang digunakan liturgi sesuai dengan maknanya. Awalnya dipublikasikan pada16 Juli 2021 709 pm Disini, terbedakan alat-alat yang dipakai dalam perayaan liturgi: Alat-alat liturgi alami, &. Alat-alat liturgi buatan. Ad. 1 ALAT-ALAT LITURGI ALAMI. Alami maksudnya: semua sarana liturgi diambil dari alam yang masih murni. Air: air memiliki makna simbolis yakni untuk mengungkapkan pembersihan dosa dan penganugerahan keselamatan hidup baru.
Ilustrasi Warna busana liturgi IstDUA hari terakhir ini telah berseliweran sebuah postingan bertajuk Memahami Warna Liturgi Khusus Pekan Suci, baik di media Whatsapp maupun di Facebook. Nampaknya postingan tersebut telah menimbulkan banyak keresahan dan pertanyaan dari umat. Beberapa pertanyaan yang ditanyakan pada saya menanggapi postingan tersebut, antara lainApakah memang pada hari Jumat Agung tidak boleh mengenakan pakaian berwarna hitam?Apakah pakaian umat juga harus sesuai dengan warna liturgi perayaan yang dilaksanakan?Saya ingin mengomentari terlebih dahulu mengenai informasi tersebut. Lalu, saya ingin menjelaskan sedikit mengenai bagaimana ajaran Gereja Katolik, khususnya aturan Tatacara Liturgi mengenai warna liturgi. Mengkritisi konten postingan Dua hal mengenai postingan tersebut telah membuat adalah postingan itu tidak mencantumkan sumber dan penulis yang jelas. Saya menerima postingan mengenai tersebut pertamakali di salah satu grup WA. Di sana tidak ada nama penulis yang membuat berita’ ada kesan memaksakan suatu aturan dalam liturgi. Dari judul postingannya, kita bisa melihat bahwa intisari postingan itu adalah ajakan untuk “Memahami Warna Liturgi Khusus Pekan Suci”.Kemudian dari beberapa kalimat yang di-tebal-kan, dijelaskan mengenai makna dan warna liturgi dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, dan pandangan saya, rasanya isi dari penjelasannya juga cukup baik. Namun mulai menjadi agak rancu, ketika membaca beberapa bagian dari penjelasan mengenai Jumat Agung. Hoax Warna Pakaian Saat Perayaan Tri Hari Suci, Ini Tanggapan Ketua Komisi Liturgi KAJ Di sana ada penekanan khusus Jumat Agung warna liturgi merah, bukan hitam. Penjelasan mengenai sejarah warna liturgi dan perubahannya saya kira tidak ada masalah. Termasuk juga aspek teologis dari perayaan Jumat Agung yang dipaparkan. Saya mulai tertegun ketika membaca kalimat kesimpulan yang berbunyi“Karena itu Jumat Agung, umat tidak diperkenankan lagi memakai baju warna hitam. Kalau punya merah atau putih. Bila tidak punya ya sepunyanya. Ingat, Jumat Agung bukan Jumat kesedihan tapi Jumat Kemenangan”. Mungkin di sinilah yang menimbulkan kegelisahan dari beberapa umat yang menanyakan pada saya. Dengan kata-kata “umat tidak diperkenankan lagi memakai baju warna hitam”, hal ini bisa membingungkan. Bahkan juga menimbulkan soal. Kok sedemikian ketat ya? Warna liturgi dalam PUMR Menurut Pedoman Umum Misale Romawi, khususnya pada nomor 335-347, di sana disebutkan beberapa warna liturgi beserta penjelasannya. Umumnya kita mengenal tiga warna liturgi yang biasa dipakai putih, hijau, ungu. Ketiga warna liturgi itu dipakai sesuai dengan masa liturgi dan juga perayaan-perayaan liturgi yang berlangsung. Masih ada warna lainKuning biasanya disamakan dengan warna putih,Jingga yang dipakai pada Masa Adven III Minggu Gaudete dan Prapaskah IV Minggu Laetare – namun juga tidak semua paroki sudah tidak banyak dipakai.Beragamnya warna liturgi ini dimaksudkan untuk membantu umat dalam penghayatan liturgi yang dirayakan. Berikut saya kutipkan penjelasan lengkap mengenai makna warna-warna liturgi tersebut dari Dokumen PUMR no 346 Warna-warna busana liturgis hendaknya digunakan menurut kebiasaan yang sampai sekarang berlaku, yaitu Warna putih digunakan dalam Ibadat Harian dan misa pada Masa Paskah dan Natal, pada perayaan-perayaan Tuhan Yesus kecuali peringatan sengsara-Nya, begitu pula pada Pesta Santa Perawan Maria, para malaikat, para kudus yang bukan martir, pada Hari Raya Semua Orang Kudus 1 November dan kelahiran Santo Yohanes Pembaptis 24 Juni, pada Pesta Santo Yohanes Pengarang Injil 27 Desember, Pesta Tahta Santo Petrus Rasul 22 Februari dan Pesta Bertobatnya Santo Paulus Rasul 25 Januari.Warna merah digunakan pada hari Minggu Palma memperingati Sengsara Tuhan dan pada hari Jumat Agung; pada hari Minggu Pentakosta, dalam perayaan-perayaan Sengsara Tuhan, pada pesta para rasul dan pengarang Injil, dan pada perayaan-perayaan para hijau digunakan dalam Ibadat Harian dan misa selama Masa Biasa sepanjang ungu digunakan dalam Masa Adven dan Prapaskah. Tetapi dapat juga digunakan dalam Ibadat Harian dan Misa hitam dapat digunakan, kalau memang sudah biasa, dalam Misa jingga dapat digunakan, kalau memang sudah biasa, pada hari Minggu Gaudete Minggu Adven III dan hari Minggu Laetare Minggu Prapaskah IV.Konferensi Uskup dapat menentukan perubahan-perubahan yang lebih serasi dengan keperluan dan kekhasan bangsa setempat. Penyerasian-penyerasian itu hendaknya diberitahukan kepada Tahhta Apostolik. Yang wajib memakai busana liturgi sesuai warna liturgi Dalam tulisan postingan yang beredar di jalur medsos ada satu kesimpulan yang menurut saya kurang pada tempatnya. Pernyataan itu seolah-olah mewajibkan umat untuk menyesuaikan pakaian mereka dengan warna liturgi yang ditentukan oleh Gereja. Sebagai pedoman, mari kita lihat siapa yang wajib mengenakan busana liturgi yang sesuai dengan warna liturgi itu. PUMR 335 menyebut demikian “Gereja adalah Tubuh Kristus. Dalam Tubuh itu tidak semua anggota menjalankan tugas yang sama. Dalam Perayaan Ekaristi tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis. Seyogyanya busana liturgis untuk imam, diakon, dan para pelayan awam diberkati.” Saya sengaja menebalkan kalimat terakhir untuk memperlihatkan bahwa hanya “imam, diakon, dan para pelayan awam diberkati”-lah yang diwajibkan memakai busana liturgi yang sesuai. Demikian juga para petugas liturgi lainnya, biasanya akan menyesuaikan dengan warna liturgi yang sesuai dengan perayaan. Tiga alasan abaikan postingan hoax tentang warna liturgi Sampai di sini, saya ingin mengajak umat sekalian untuk tidak menghiraukan alias mengabaikan imbauan tersebut karena tiga alasan A. Postingan tersebut bukan berasal dari otoritas resmi Gereja entah itu Komisi Liturgi Keuskupan atau otoritas Gereja lainnya. Biasanya suatu kebijakan atau aturan yang dikeluarkan secara resmi oleh Gereja akan menyertakan tandatangan atau setidaknya lembaga yang mengeluarkan peraturan. Dalam hal ini, sebagaimana telah saya paparkan sebelumnya, postingan yang beredar di medsos sama sekali tidak mencantumkan nama penulis yang jelas. Maka bisa dipastikan hal itu bukanlah dari lembaga resmi Gereja. B. Isi dari postingan tersebut menimbulkan keresahan dan terkesan memaksa. Tentu hal ini bukanlah sifat dari peraturan resmi yang biasanya diberikan oleh Gereja. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja banyak mengadakan pembaruan liturgi, antara lain dalam hal bahasa. Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja mewajibkan supaya perayaan liturgi, khususnya Ekaristi dilaksanakan dalam bahasa Latin. Namun kemudian terjadi perubahan besar dalam Gereja yang memungkinkan penggunaan bahasa setempat dalam perayaan liturgi. Tujuannya tidak lain adalah supaya buah-buah dari perayaan liturgi semakin besar dirasakan oleh umat. Sebab itu, melihat sifat dari kebijaksanaan Gereja yang selama ini kita alami, di mana Gereja ingin agar buah rohani dari liturgi itu semakin dirasakan umat, maka larangan memakai pakaian hitam saat Jumat Agung’ itu sangat jauh dari sifat Gereja. C. Aturan warna busana liturgi hanya ditujukan untuk imam, diakon dan petugas liturgi. Umat tidak diwajibkan. Gereja mengharapkan agar kita memakai pakaian yang layak dan pantas saat mengikuti perayaan liturgi. Dan dalam hal ini, seorang teman dalam diskusi di grup Whatsapp mengenai postingan tersebut di atas berkelakar demikian “Boleh kenakan pakaian warna apa saja, asal jangan telanjang.” Artinya, ketika pergi ke gereja, apa pun warna pakaiannya, pakailah pakaian yang rapi, sopan, dan pantas. Bandingkan ketika kita mau pergi menghadiri suatu pesta, kita sibuk memilih pakaian yang pantas, rapi dan sopan; apa pun warna pakaian itu. Bukankah kita semestinya juga demikian ketika hendak menghadiri perayaan liturgi? Jangan ragu untuk datang merayakan perayaan liturgi, hanya karena tidak mempunyai warna pakaian yang sesuai dengan warna liturgi. Lebih baik menyiapkan hati kita agar buah-buah dari perayaan liturgi semakin besar kita rasakan. Selamat memasuki Tri Hari Suci. Selamat menyongsong Paskah dengan penuh sukacita. Berkah Dalem. Imam Kongregasi Hati Kudus Yesus SCJ dan pernah berkarya di Komisi Komsos Keuskupan Palembang; kini dalam persiapan studi khusus dan tinggal di Skolastikat SCJ Sesawi
JadwalPantang dan Puasa Katolik 2022 selama Masa Prapaskah, dari Rabu Abu hingga Jumat Agung Beserta Maknanya. Penulis: Carolus Bara. Senin 21-02-2022 / 19:44 WIB. Usai mengetahui jadwal masa puasa dan pantang, umat Kaltolik hendaknya mengetahui arti dan makna dari puasa dan pantang selama mas Pra-Paskah atau sebelum memperingati Wafatnya Isa Seorang penganut agama Kristen diberikan tanda salib di dahi selama kebaktian Rabu Abu di gereja Saint Anthony di Hyderabad pada Rabu 2/3. Foto Noah Seelam/AFPUmat Katolik di seluruh dunia tengah memperingati Rabu Abu atau Ash Wednesday pada hari ini, Rabu 22/2. Warna liturgi Rabu Abu pun mendominasi hari tanda penyesalan, perkabungan, dan pertobatan manusia buku Hari Raya Liturgi Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja oleh Rasid Rachman, warna liturgi adalah tanda siklus gereja dan peristiwa gerejawi. Berbagai atribut mulai dari pakaian, banner, spanduk, hingga taplak altar didominasi oleh warna liturgi dari peristiwa momen penting dalam ajaran Katolik memiliki warna liturgi yang berbeda-beda. Lalu, apa warna liturgi Rabu Abu dan apa maknanya?Warna Liturgi Rabu AbuPangeran Xavier, seorang imam Katolik, memimpin misa selama kebaktian Rabu Abu di gereja Saint Anthony di Hyderabad pada Rabu 2/3. Foto Noah Seelam/AFPRabu Abu merupakan awal masa Prapaskah yang menandai masuknya umat ke dalam masa tobat 40 hari sebelum Paskah. Mengutip laman J. Oliver Buswell Library, Rabu Abu umumnya dilambangkan dengan warna ungu atau masa Rabu Abu, pastor, misdinar, diakon dan prodiakon, serta petugas misa mengenakan busana berwarna ungu. Berbagai ornamen di gereja pun didominasi dengan warna dalam buku Dasar-Dasar Liturgi, warna ungu merupakan simbol kebijaksanaan, keseimbangan, sikap hati-hati, dan wawas diri. Itu sebabnya warna ini dipilih untuk ibadat tobat, masa Adven, serta masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu masa-masa tersebut, semua umat Nasrani diundang untuk bertobat dan mempersiapkan diri untuk perayaan agung Natal atau Paskah. Pakaian serba ungu yang dikenakan para umat pada perayaan Rabu Abu menjadi wujud kesiapan atas peringatan momen spesial ungu juga dipandang sebagai lambang kesedihan dan ketenangan. Dalam tradisi Katolik, warna yang dipakai menjelang Paskah berkaitan erat dengan kisah sengsara dan wafatnya Yesus Kristus. Dikisahkan para prajurit memakaikan Yesus jubah ungu serta mahkota dari anyaman hanya menjadi warna liturgi Rabu Abu, warna ungu juga identik dengan beberapa momen penting lainnya. Mulai dari masa Adven, ibadat harian, maupun misa Katolik menghadiri misa selama kebaktian Rabu Abu di Basilika Katedral St. Thomas di Chennai pada Rabu 2/3. Foto ARUN SANKAR/AFPSelain ungu, ada pula yang menggunakan warna hitam atau merah sebagai simbol untuk memperingati Rabu Abu. Namun, warna merah lebih sering muncul untuk Pekan Suci yang dimulai dengan Minggu warna hitam yang menjadi alternatif warna liturgi Rabu Abu merupakan lawan warna putih yang identik dengan kegelapan, ketiadaan, pengorbanan, serta lambang kesedihan dan kedukaan. Penggunaan warna hitam tidak mutlak dan biasanya jarang masa Rabu Abu selesai, umat Nasrani akan memasuki masa Prapaskah yang juga ditandai dengan warna liturgi ungu. Begitu pula pada masa setelahnya, yakni Minggu Palma atau Pekan Suci, di mana ungu menjadi warna liturgis alternatif untuk menggantikan warna merah sendiri menggambarkan penumpahan darah Tuhan Yesus yang berkorban demi kehidupan umat-Nya di dunia. Pada perayaan Paskah, barulah gereja menggunakan warna liturgi itu warna liturgi?Apa warna liturgi yang digunakan pada hari raya Paskah?Apa arti warna liturgi merah? . 112 84 467 327 194 306 65 438

warna liturgi katolik dan maknanya